Tags

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Ya.. mereka bukanlah milik kita.
Mereka adalah makhluk, yang setelah diminta persaksiannya, dititipkan pada kita

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS Al-A’raf[7]: 172)

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Maka letakkanlah pondasi aqidah yang kokoh dalam dirinya, agar apapun yang menjadi pilihannya selalu dalam naungan keridhaan Sang Maha Menjaga lagi Maha Menentukan

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
16. (Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.
(Al Qur’an surat Luqman [31] : 13 dan 16)

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau

Mereka bukanlah kita.
Jangan bandingkan mereka dengan kita.
Mereka bukan pula budak yang harus mencapai ambisi yang kita sendiri tak sanggup menggapainya.



Catatan orangtua galau yang tau kalau bekalnya dalam mengemban amanah masih sedikit, tapi malas untuk menambahnya

*merupakan judul puisi yang ditulis oleh Kahlil Gibran

pengikat ilmu. pengasah otak. pemoles hati

Advertisements