Tags

, ,

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka

2015-01-05 08.34.33Novel ini berkisah tentang Gunawan Garnida, yang berusaha untuk selalu mendampingi istri dan kedua buah hatinya, walau maut telah memisahkannya dari ketiga orang tercintanya itu.

Gunawan merupakan sosok pemimpin dengan perencanaan matang. Bahkan ketika kanker datang meyapa, ia membalas sapaan itu dengan membuat sapaan2 kecil yang begitu tertata. Sapaan untuk anak-anaknya kelak, untuk disampaikan pada masa-masa tertentu dimana buah hatinya itu diperkirakan telah mencapai tahap perkembangan tertentu. Dan ketika maut menyapa, sapaan Gunawan hadir setiap sabtu sore untuk menghangatkan hati Itje, Satya dan Cakra -mereka yang ditinggalkan..

27 Desember 1991

Pak Gunawan berada di dalam gambar. Dia tampak segar dan cerah ceria. “Hai Satya! Hai Cakra!” Sang bapak melambaikan tangan.

“ini Bapak. Iya, bener kok, ini Bapak. Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak Sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di sampin kalian. Tapi, bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan. Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.

I don’t let death take these, away from us. I don’t give death, a chance.

Mungkin kalian belum mengerti kalimat barusan. Pada waktunya, kalian akan mengerti.

Mari kita belajar. Mari kita bermain. Bapak ada disini. Disamping kalian.

Bapak sayang kalian.

duuuh sapaan pertama ini menyayat-nyayat hati saya. rasa sedih bercampur dengan pertanyaan: apa yang sudah saya siapkan untuk anak-anak saya? apa yang sudah saya siapkan untuk pertemuan agung denganNya nanti? Allah.. ternyata hamba belum siap…

3 Juni 1992

Pak Gunawan duduk di kursi seperti biasa. Dia membolak-balik beberapa lembar sertifikat yang ada di tangannya. Ia menatap handycam agak lama. Sorot matanya pindah memandang ke luar, seakan ingin memetik kata pembuka tepat.

“Orang tua, selalu ingin memberikan contoh kesuksesannya. Kebanyakan, malu untuk memberikan contoh kegagalannya sendiri. Dan mereka terdiam membiarkan anak-anaknya terperangkap dalam kesalahan yang sama.”

Dia terdiam agak lama

“Bapak menyesali episode kuliah dulu. Sering bolos. Malas. Pacaran gak jelas. Tidak ada yang menasihati Bapak bahwa ada sesuatu yang namanya IPK yang akan mendikte hidup bapak cukup lama.”

Dia melayangkan selembar ijazah pada handycam.

“Ini… ijazah kelulusan sarjana Bapak.”

Dia memperlihatkan ijazah itu.

“IPK Bapak 2,76. Kalian masih 17 tahun sekarang, yang artinya kalian mungkin masih kelas 2 SMA. Mungkin kalian belum tahu IPK itu apa. IPK itu adalah Indeks Prestasi Kumulatif skala 4. Rata-rata dari semua nilai yang didapat selama seseorang 4-5 tahun kuliah. Di zaman kalian nanti, mungkin namanya lain. Tapi sepertinya akan tetap ada.

Di zaman Bapak cari kerja, IPK itu gak laku dimana-mana. Kebanyakan lapangan kerja itu menginginkan lulusan dengan IPK 3. Di zaman Bapak, lulusan di atas IPK 3 memiliki lebih bnayak opsi pekerjaan. Mereka dapat memilih pekerjaan. Lulusan yang IPK di bawah 3, sering gagal lamar kerja. Akhirnya Bapak mendapat pekerjaan yang baik. Tapi itu setelah jatuh bangun cari kerja mati-matian.

Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, “Prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude.”

Dia terdiam.

“Kemudian mereka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla.”

Dia terdiam lagi.

“Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting. Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

Kalian masih kelas 2 SMA. Kalian punya waktu untuk banyak hal. Asah soft skill kalian. Belajar juga demi akhlak yang baik. Kembangkan bakat kalian, apapun itu. Luangkan waktu untuk semua itu. Tapi satu aja, jangan lupa sama tiketnya.”

Dia melambaikan ijazah sarjananya.

“Jangan lupa belajar.”

Dia terdiam lama lagi

“Bapak sayang kalian.”

Selain isi rekaman video, saya juga memasukkan beberapa kalimat yang menurut saya keren. Seperti kalimat yang ini:

— ” Saya suka sedih setiap kali ada orang tua yang memberi beban seperti itu pada anak sulungnya. Kamu anak sulung, kamu harus kasih contoh untuk adik-adik kamu.”

“Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.”

“Jika kita ingin memotivasi Satya untuk belajar, jangan pojokkan dia dengan, ‘kamu anak sulung, harus jadi contoh.’ Kasih liat pada dia, orang tuanya juga rangking satu. Perlihatkan rapor saya pada mereka berdua. Itu yang akan membuat mereka belajar.”

“Jika kita ingin memotivasi Satya dengan status sulung, kita coba dengan cara positif.

‘Kang Satya, lihat itu Saka, dia butuh perlindungan Kakang. He needs your help.’

‘Kang Satya, lihat itu Saka selalu ingin pakai baju yang sama dengan Kakang. He looks up to you. He thinks you’re cool.’

‘Kang Satya coba ajarin Saka 1+1. Soalnya kalo sama Mamah, Saka gak mau dneger. Dia maunya dengerin Kakang. He thinks you’re smart.’

“Kamu liat kan bedanya. Dengan seperti itu, Satya akan sukarela menjadi panutan.”

Sang Ibu mengangguk.

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung – kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua – untuk semua anak.”

jleb..jleb..jleb…kena banget nih kalimat terakhirnya T_T

13 Februari 1992

Handycam tampak shaky, seperti dihempas oleh tangan. Kemudian gambar terlihat tenang. Di depan, tampak Satya dan Cakra duduk. Mereka masih memakai seragam sekolah. Di samping kiri, ada Itje yang memasang air muka cemas. Pak Gunawan in frame dengan muka menahan marah.

“Satya, Cakra, dengar ya. Bapak sedih hari ini. Bapak sedih denger Satya gak mau sekolah kalo gak dibeliin sepatu seperti teman Satya.”

Sang Bapak terdiam sebentar, mencari kata yang tepat.

“Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. Bapak kasih tau dari mana nilai kita datang. Nilai kita datang dari sini.”

Bapak menunjuk kepada hati.

“Harga diri kita, datang dari akhlak kita. Anak yang jujur. Anak yang baik. Anak yang berani bilang, ‘Saya benar’ ketika benar. Anak yang berani bilang, ‘Maaf’ ketika salah. Anak yang berguna bagi dirinya dan orang lain.”

“…”

“Harga diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati.”

“…”

Sang Bapak membelai kedua anaknya.

“Pada waktunya, kalian akan mengerti.”

6 Juni 1992

Handycam dinyalakan dengan sangat shaky. Pak Gunawan tampak gusar. Dia menghempaskan alat itu di atas sebuah meja. Terlihat Satya dan Cakra duduk masih memakai seragam sekolah mereka. Sang Bapak duduk di sebelah mereka.

“Kakang, coba ceritakan lagi kepada Bapak yang kamu ceritakan barusan.”

“…”

“Yang di sekolah itu.”

Satya tampak ragu. Jelas sekali dia baru selesai dimarahi sebelum video ini berjalan.

“Tadi Kakang mukul Andi.”

“Kenapa Kakang mukul Andi?”

“Karena Andi gangguin Saka. Kakang kan harus ngebelain Adik.”

“Kenapa Andi gangguin Saka?”

“Karena… Saka mengambil roti Andi.”

Ada hening sebentar diantara mereka. Pak Gunawan membelai kedua rambut anaknya.

Boys. Di keluarga ini, kita membela yang benar.”

“…”

“Kenapa?” tanya Satya

“Karena Tuhan pun melihat manusia dari yang benar dan salah. Dan yang benar itu yang baik. Bukan dari mana dia berasal.”

“…”

“Siapa yang kita bela?”

Satya dan Cakra menjawab, “Yang benar.”

7 Desember 1992

Pak Gunawan duduk di samping tempat tidur. Dia tampak sangat kurus dan botak. Tapi juga tampak lebih bahagia.

“Satya, Cakra… Meski Bapak tidak ada di samping kalian, semoga semua pesan yang kalian terima bertahun-tahun berhasil membentu kalian menjalani apapun yang kalian jalani.”

Dia menghela napas panjang.

“Ini adalah video terakhir Bapak. Bapak sudah merekam pesan yang ingin Bapak sampaikan. Pesan-pesan yang Bapak anggap penting untuk kalian. Jika kalian menyaksikan video ini, artinya sebentar lagi kalian akan menikah. Akan menjadi kepala dari sebuah keluarga. Suami dari seorang istri. Dan Bapak dari seorang anak. Tugas Bapak membimbing kalian, selesai disini.

Tugas kalian sekarang, membimbing keluarga kecil kalian. Selalu ingatkan kepada diri kalian, untuk memberikan yang terbaik bagi mereka. Karena kehadiran mereka adalah hal yang terbaik yang dapat terjadi pada kalian. Sebagaimana kehadiran Mamah dan kalian. Menjadi hal terbaik dalam hidup Bapak.

Terimakasih untuk itu. Terima kasih sudah membahagiakan Bapak.

Untuk terakhir kalinya, Bapak ucapkan, Bapak sayang kalian.

Assalamu’alaikum wr.wb”

Itu tadi cuplikan beberapa video favorit saya. Masih ada video-video lain. Yang secara keseluruhan mendampingi mereka bertiga.

Mendampingi Satya yang perfeksionis dan kaku menjalani hari-harinya sebagai seorang suami dan ayah.

Mendampingi Cakra melewati neraka jomblo dan akhirnya menemukan jodohnya^^

Mendampingi Itje agar selalu tegar meski penyakit mulai menggerogoti tubuhnya…

Secara garis besar buku ini bagus banget untuk dibaca oleh para orang tua dan calon orang tua. Yuks dibaca bukunya^^

Advertisements