Tags

saya mo sedikit cerita ah..

anak pertama saya, Azzam, sangat suka pelajaran berhitung. di usianya yang belum genap 7th, ia sudah memahami konsep penjumlahan yang kemudian menuntunnya memahami konsep pengurangan (dan perkalian tanpa disadarinya).

tapi untuk membaca…ampuuun..susah bukan main. azzam kesulitan untuk membedakan antara huruf “b” dengan huruf “d”, huruf “P” dengan huruf “R”. sampai-sampai saya sempat merasa curiga klo dia tuh anak dyslexia. karena diapun masih sering menuliskan angka selain angka 1 secara terbalik.

seharusnya saya panik, seperti mungkin kebanyakan orangtua lainnya. karena di indonesia ini, sepertinya anak kelas 1 SD dituntut sudah pandai membaca sebuah wacana. bayangkan saja, di TK yang seharusnya hanya mempersiapkan anak untuk bersekolah dengan cara mengasah kemampuan motorik halus, kasar dan sosioemosionalnya, sudah dituntut untuk BISA MEMBACA! saya menolak mentah-mentah saran guru TK azzam untuk mengikutkan azzam di pelajaran tambahan sepulang sekolah. bah! untuk PR yang saya anggap terlalu membebani saja saya sudah sangat tidak sepakat (bayangkan saja, anak TK diberi PR sebanyak 20 soal. TERLALU.), ini malah disuruh ikut pelajaran tambahan. nehi lah yaw. kembali ke masalah panik, ternyata saya ga panik. cuma spaneng aja ama tekanan dari nenek si azam alias emak aye, yang selalu maksa supaya azzam ikut les baca di sekolahnya. alasannya kasihan kalau nanti di sd dia belum bisa baca, sedangkan temannya yang lain sudah lancar. aye ngotot: nggak perlu les baca.titik.

masuk ke SD, ternyata azzam masuk salah satu dari beberapa ank yang tertinggal dalam hal membaca. nenek langsung komen: tuuuh kaan *sepertinya ini kalimat sudah menjadi epidemik dikalangan orangtua ya hehe.. saya masih cuek.

saya cuek bukan lantas saya diem. nggak lah. kan di sd emang dah mulai tuh tugas perkembangannya untuk belajar secara akademis. jadi diem-diem saya arahkan azzam untuk bisa baca. kenapa diem2? karena azzam ga suka di suruh-suruh. dia mau melakukan sesuatu kalau dia tau ada manfaatnya buat dia. mau ngomong sampe berbusa, kalo dia anggap itu ga guna buat dia, ga bakal diturutin dah omongan emaknya.. so, secara sistematis, saya susupin pikirannya *sok intelejen bahasanya* ‘wah kalo bisa baca enak ya, kalo nonton yang bahasa inggris ga usah nanya2 artinya’ , ‘wah ini ceritanya bagus nih buat dibaca’ , ‘wah ini nama permennya apa ya? dibikinnya dari apa ya?’ dan banyak “wah” yang lainnya.

selain mancing2, saya juga suka ngobrol sama faruq, adik azzam yang terpaut 2tahun usianya. berbeda dengan azzam, faruq jago dalam hal mengenali huruf dan berbahasa. bahkan dia seringkali membenarkan kosakata saya. dia tau loh kalo yang bener itu roboh, bukan rubuh..coba cek KBBI deh 🙂 nah pas ngobrol2 sama faruq itu, biasanya ada azzam juga deket situ. sambil terus ngobrol, tanpa terlihat menyindir, saya memuji kemampuan faruq dalam mengenali huruf. saya juga memuji faruq yang sudah mulai bisa mengeja tanpa diajari, tapi karena banyak bertanya. saya lakukan pembicaraan itu tanpa melibatkan azzam.

sampai suatu ketika..azzam melirik kaos yang saya pakai lalu keluarlah dari mulutnya: maaaa..kaaaa…ssssar…makasar ya bunda bacanya? masya allah…berbunga-bunga betul saya saat itu. saya pun lantas menghujaninya dengan pujian yang bersifat dukungan moral. sekarang dia selalu mencoba untuk membaca tulisan-tulisan yang dia lihat. alhamdulillah… ^^

Sungguh, tugas orangtua dan guru bukanlah mempersiapkan anak-anak memiliki prestasi akademik yang menakjubkan. Tugas mereka adalah membimbing anak-anak agar mencintai ilmu, sehingga dengan kecintaannya yang besar itu mereka akan bersemangat dalam belajar. (M.Fauzil Adhim, Segenggam Iman Anak Kita)

Advertisements